Minggu, 13 November 2016

Tugas 4 : Psikologi Manajemen "Analisis Kasus Masalah Manajemen Sumber Daya Manusia"

Tugas 4 : Psikologi Manajemen "Analisis Kasus Masalah Manajemen Sumber Daya Manusia"

Nama  : Ashfiya Hilyah Awliya
NPM    : 11514739
Isi         :
1.      Masalah Keragaman Budaya & Sikap
PT Djarum adalah sebuah perusahaan rokok yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Sesuai dengan visi dan misinya, PT Djarum mempunyai salah satu payung untuk olahraga yaitu Indonesian Downhill. Didalam perusahaan tersebut mengadakan dan mensponsori acara balap sepeda gunung yang bernama Indonesian Downhill.
Lomba tersebut diadakan ditempat yang berbeda-beda, contohnya adalah di Solo, Malang, Majalengka, dan masih banyak lagi. Tempat yang dipilih adalah tempat yang ekstrem dan menantang seperti di pegunungan atau di bukit.
Ketika melaksanakan pekerjaan di daerah-daerah tersebut, beberapa pegawai mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi karena bahasa yang ada ditempat tersebut adalah bahasa yang tidak dikuasai oleh pegawai-pegawai di perusahaan tersebut. Diantara banyak pegawai, mungkin hanya terdapat satu pegawai yang mengerti. Sedangkan, pegawai-pegawai tersebut tidak hanya pergi ke satu daerah saja. Namun, ke banyak daerah yang berbeda-beda.
Dalam hal ini, pegawai mengalami kesulitan untuk berkomunikasi kepada penduduk disana sehingga memakan waktu yang banyak agar acara tersebut tetap berjalan dengan lancar.
Menurut analisis saya, yang menyebabkan masalah tersebut terjadi adalah karena keragaman budaya, yaitu bahasa. Negara Indonesia sendiri mempunyai banyak dan bermacam-macam bahasa. Pegawai-pegawai yang terdapat di Indonesian Downhill dari latar belakang budaya yang berbeda-beda sehingga budaya yang mereka pahami dan ketahui juga berbeda. Menurut analisis saya, yang menyebabkan masalah itu terjadi adalah karena pegawai-pegawai tersebut tidak memiliki pengetahuan mengenai bahasa tersebut karena pegawai tersebut berasal dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Ketika terdapat salah satu pegawai yang mengerti bahasa di tempat tersebut, pegawai tersebut menjadi penerjemah bahasa. Namun hal ini membutuhkan waktu yang lama sehingga membuang-buang waktu dan waktu menjadi tidak efesien.
Menurut analisis saya, penyelesaian dari masalah ini adalah :
1.      Perusahaan tersebut memberikan pelatihan untuk mengajarkan bahasa tertentu kepada pegawai sehingga pegawai dapat menguasai bahasa tersebut. Ketika pelatihan sudah diberikan, waktu akan lebih efesien dan tidak terjadi masalah akibat keragaman budaya. Acara lomba sepeda gunung tersebut pun menjadi lancar.
2.      Pegawai di Indonesian Downhill mempunyai inisiatif sendiri untuk belajar bahasa tertentu dengan menggunakan handphone sehingga tidak perlu lewat dan membutuhkan penejermah bahasa untuk dapat berkomunikasi dengan penduduk di daerah tertentu.
3.      Pegawai dapat menggunakan bahasa tangan dalam menunjukkan rute, petunjuk arah, ataupun dalam berkomunikasi sehingga waktu menjadi lebih efesien.

2.      Masalah Kergaman Pekerjaan & Professional
Didalam suatu lembaga pendidkan yang membutuhkan seorang psikolog, terdapat karyawan yang sudah diterima dan masuk untuk jabatan psikolog. Namun perusahaan tidak dapat membayar mahal seseorang tersebut. Sehingga psikolog kompetensi tidak optimal untuk menjalankan fungsi-fungsi yang seharusnya dimiliki seorang psikolog di lembaga pendidikan tersebut. Akibatnya, guru-guru menjadi tidak terurus. Perusahaan mendapatkan SDM yang tidak kompeten di bidang yang diamanahkan nya, banyak pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan oleh SDM tersebut. Untuk tanggung jawab masalah murid, psikolog tidak dapat mengatur pekerjaannya dengan baik.
Hal ini dikarenakan kemampuan perusahaan yang hanya dapat membayar seseorang yang kompetensi yang rendah sehingga tidak dapat diharapkan dia punya performa kerja yang berkualitas, prestasi kerja yang bagus, profesional, dan dapat mengangkat  prestasi perusahaan karena tingkat kemampuannya hanya sebatas itu saja. Akibat nya banyak siswa yang menjadi tidak terurus dan banyak waktu yang terbuang. Kemampuan dari seseorang yang tidak profesional.
Menurut analisis saya, perusahaan dapat menyelesaikan masalah ini dengan cara menambahkan gaji di jabatan psikolog tersebut karena peran psikolog di suatu perusahaan itu sangat penting dan bila seorang psikolog tidak dapat menjalankan dengan baik, maka semua karyawan dalam perusahaan tersebut akan mendapatkan dampak buruk.

            Sumber : Pengalaman dari Keluarga

Senin, 07 November 2016

Tugas 3 : Psikologi Manajemen “Kelemahan & Keuntungan Rekruitmen Internal & Eksternal”


·     Identitas
Nama               : Ashfiya Hilyah Awliya
NPM               : 11514739
Kelas               : 3PA10
·  Tugas 3           : Psikologi Manajemen
·   Isi                    :
Kelemahan & Keuntungan Rekruitmen Internal & Eksternal

A.     Rekruitmen Eksternal
       Kelebihan rekruitmen eksternal adalah sebagai berikut :
1.      Perusahaan mendapatkan pegawai yang fresh, baru, dan merupakan angkatan muda yang mungkin belum mempunyai keluarga, dan tidak terlalu menentukan besaran gaji pegawai tersebut sehingga dapat dibayar sesuai dengan kemampuan perusahaan tersebut.
2.      Ketika mengambil pegawai dari lembaga pendidikan tertentu namun hanya dipekerjakan untuk beberapa kurun waktu tertentu, keuntungan bagi perusahaan adalah pekerjaan dapat terselesaikan dalam kurun waktu tertentu.
3.      Perusahaan mudah mendapatkan pegawai karena perusahaan mempunyai link (teman pegawai, keluarga pegawai, dll).

Kekurangan rekruitmen eksternal adalah sebagai berikut :
1.      Pegawai dalam perusahaan itu tidak mempunyai pengetahuan tentang berita negatif yang terjadi dalam perusahaan tersebut.
2.      Perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih besar karena membutuhkan biaya lebih untuk rekruitmen, untuk melakukan pelatihan dan pengembangan pegawai sesuai dengan pekerjaan yang sudah ada di perusahaan tersebut.
3.      Perusahaan mendapatkan karyawan dari agen tenaga kerja yang belum tentu terpercaya dan belum tentu bertanggung jawab penuh terhadap kualitas pegawai yang ingin ditarik dari perusahaan tersebut.
4.      Ketika mengambil pegawai dari agen tenaga kerja/ lembaga pendidikan dalam kurun waktu tertentu, kekurangan nya adalah perusahaan tersebut tidak mengikat hubungan emosional yang kuat dengan pegawai tersebut, serta tidak melakukan pelatihan dan pengembangan karena perusahaan tersebut tidak merasa memiliki.
5.       Ketika mengambil pegawai dari teman pegawao, keluarga pegawai akan berpotensi bahwa pegawai yang baru di rekrut tersebut sudah mengetahu kekurangan yang sudah ada di perusahaan.

B.      Rekruitmen Internal

            Kelebihan rekruitmen internal adalah sebagai berikut :
1.   Tenaga kerja/ pegawai sudah lebih mengenal tentang perusahaan tersebut sehingga lebih loyal dan mempunyai pengetahuan yang cukup untuk memahami perusahaan.
2.     Perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya rekruitmen lagi, karena adanya rotasi pegawai.
3. Ketika terjadi nya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) , dan suatu perusahaan membutuhkan pegawai tersebut kembali. Perusahaan tersebut tidak perlu melatih dan mengembangkan pegawai tersebut dari awal kembali.

Kekurangan Rekruitmen Internal :
1.       Perusahaan tidak mendapatkan pegawai/ tenaga kerja yang frsh.
2.       Perusahaan telah mengetahui hal-hal negatif tentang perusahaan tersebut.
3.       Pegawai berpotensi mengalami kejenuhan karena terus berada di perusahaan yang sama.



Tugas 3 : Psikologi Manajemen “Tes Psikologi untuk Pegawai”


·     Identitas
Nama               : Ashfiya Hilyah Awliya
NPM               : 11514739
Kelas               : 3PA10
·  Tugas 3           : Psikologi Manajemen
·  Isi                    :

Tes Psikologi untuk Pegawai
1. Tes Army Alpha
 


Tes Psikologi Army Alpha adalah sebuah tes psikologi yang dikembangkan oleh seorang psikolog Amerika bernama Arthur Sinton Otis, Ph.D (28 July 1886 - 1 January 1964). Otis mengembangkan tes Army Alpha pada tahun 1917. Pada awalnya tes ini dikembangkan oleh Otis untuk didedikasikan kepada US.Army (Angkatan Militer Amerika), sehingga diberi nama Army Alpha.Tes ini pernah dipakai untuk merekrut 1,7 juta tentara Amerika pada Perang Dunia pertama.
            Tes Psikologi Army Alpha ini adalah tes yang tidak meminta anda untuk menggambar, namun meminta anda menjawab sejumlah pertanyaan, sehingga tergolong "Tes Psikologi Kuesioner".

2. CFIT
CFIT atau yang merupakan kependekan dari Culture Fair Intelligence Test merupakan test yang dikembangkan oleh salah satu tokoh inteligensi terkenal, yaitu Raymond Cattel. Test CFIT ini dibuat dengan latar belakang test – test inteligensi lainnya yang tidak bebas nilai dan masih terpengaruh oleh budaya budaya dan juga norma pada masing – masing Negara. Norma dan juga nilai – nilai pada suatu kebudayaan ini, dapat mempengaruhi hasil dari pengukuran IQ atau Inteligensi individu. Karena itu, diperlukan sebuah test inteligensi universal, yang sifatnya :
1.      Bebas nilai
2.      Tidak terikat pada kebudayaan tertentu
3.      Dipahami oleh semua orang secara universal
Test CFIT ini merupakan tes psikologi yang mana ia mengukur apa yang dikenal sebagai fluid intelligence, yaitu kecerdasan yang meliputi kemampuan analisis dan penalaran. Terdapat tiga jenis CFIT, yaitu :
1.      CFIT skala 1, yang ditujukan untuk mereka yang mengalami retardasi mental
2.      CFIT Skala 2, yang ditujukan untuk usia 8 hingga 13 tahun
3.      CFIT skala 3, yang ditujukan untuk dewasa
4.      FIT Skala 3 adalah bentuk test CFIT yang paling umum dan juga banyak digunakan saat ini, terutama untuk penggunaan rekrutmen  dan juga assessment awal individu atau klien.
Administrasi dari Test CFIT
CFIT sendiri (Skala 3) terdiri dari 4 macam subtest. Berikut ini adalah ke empat macam subtest pada CFIT:
1.      Subtest 1 – Series
Peserta atau klien diminta untuk melanjutkan pola yang sudah ada, dan memilih 1 dari 6 pilihan pola yang ada.
2.      Subtest 2 – Classification
Peserta atau klien diminta untuk memilih 2 dari 5 pilihan gambar, dengan pola ataupun karakteristik yang sama atau memiliki kemiripan.
3.      Subtest 3 – Matrices
Peserta atau klien diminta untuk memilih 1 dari 5 pilihan jawaban, yang mampu melengkapi gambar utama yang tersaji. Subtest ini memiliki cara kerja yang mirip dengan APM, SPM, dan juga CPM.
4.      Subtest 4 – Condition / Typologi
Peserta atau klien diminta untuk memilih 1 dari 5 jawaban dimana jawaban tersebut memiliki kondisi, tekstur ataupun situasi yang sama seperti pada soal yang tersaji.
CFIT merupakan bentuk battery test, karena itu membutuhkan waktu, dan peserta atau klien dituntut untuk mampu menjawab soal pada masing – masing subtest dalam waktu tertentu. Masing – masing subtest pada CFIT memiliki karekteristik yang berbeda – beda, sehingga peserta atau klien nantinya harus konsentrasi dan juga focus terhadap instruksi yang diberikan oleh tester pada saat pelaksanaan test.
2. Wartegg
Tujuannya adalah eksplorasi kepribadian dalam istilah fungsi-fungsi dasar
yaitu: emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol, reality function, yang ada pada semua orang namun dengan intensitas dan interelasi yang berbeda.
Struktur kepribadian tidaklah statis, berubah-ubah dan menentukan sebagian besar perilaku individu. Maka tehnik eksplorasi juga melihat cara subyek berfungsi, yaitu apakah normal ataukah abnormal. Maka bila satu atau beberapa kompinen sangat dominan, berarti bahwa struktur tidak seimbang, jadi fungsi subyek adalah defektif. Misalnya, fungsi kontrol terlalu kuat maka perilaku akan terhambat, sedangkan bila imajinasi berkembang berlebihan maka kontak dengan realitas dan fungsi sosialnya terganggu.


Pada saat Anda menjalankan Wartegg Test, Anda akan diberi selembar kertas yg berisi 8 kotak yg ada stimulus2 nya, kemudian Anda akan diberikan perintah untuk melengkapi dari gambar yg ada di kotak tersebut.
Isi dari masing2 gambar :
1.      Gambar 1
Berupa titik ditengah kotak : ini menyangkut hal-hal yANg berhubungan dengan penyesuaian diri yaitu bagaimana seseorang menempatkan diri pada lingkungan nya.
2.      Gambar 2
Berupa ~ namun berada di kotak sebelah kiri , menunjukkan fleksibilitas perasaan.
3.      Gambar 3
Berupa 3 garis horisontal dari pendek, sedang tinggi sejajar yang mengukur hasrat untuk maju/ ambisi.
4.      Gambar 4
Berupa kotak kecil di sebelah kanan yang mengukur bagaimana seseorang mengatasi kesulitan
5.      Gambar 5
Seperti huruf T namun miring mengukur bagaimana cara bertindak.
6.      Gambar 6
Berupa garis horisontal ; vertikal : mengukur cara berpikir /analisa; sintesa.
7.      Gambar 7
Berupa titik2 : menyangkut kehidupan dan perasaan ( apakah sudah stabil, kekanakan).
8.      Gambar 8
Berupa lengkungan : mengenai kehidupan sosial/ hubungan sosial.
     Berikut ini adalah salah satu contoh pengerjaan yang pernah digunakan penulis untuk melewati tahap psikotes ini: 


4. Pauli


Tes  ini pada awalnya dibuat oleh seorang psikiater yang bernama kraepelin yang awalnya digunakan untuk membedakan antara orang yang normal dan tidak normal. Namun seiring perkembangan waktu, test ini sudah digunakan oleh perusahaan, badan hukum termasuk instansi pemerintahan untuk menyeleksi calon tenaga kerja/ pegawai.
Sebuah Speed Test yang terdiri dari 45 lajur angka satuan antar 0 sampai dengan 9 yang tersusun secara acak sebanyak 60 angka secara vertikal pada tiap-tiap lajur. Ciri utama sebuah speed test adalah tidak adanya waktu yang cukup untuk menyelesaikan semua soal sehingga testi tidak diharapkan untuk menyelesaikan sepenuhnya setiap lajur. Inti dalam tes ini adalah bagaimana kecepatan kerja testi.

5.        PAPI Kostick
Tes untuk menjabarkan kepribadian dalam 20 aspek yang masing-masing mewakili need atau role tertentu, tinggi rendahnya need atau role tertentu mempunyai arti yang spesifik. Konfigurasi yang diperoleh adalah gambaran dari pilihan testee yang bermuatan need atau role, dan dibandingkan dengan need atau role lain dalam keseluruhan sistem kepribadian berdasarkan persepsi testee atas dirinya sendiri.
PAPI Kostick merupakan laporan inventori kepribadian (self report inventory), terdiri dari 90 pasangan pernyataan pendek berhubungan dalam situasi kerja, yang menyangkut 20 aspek kepribadian yang dikelompokkan dalam 7 bidang, yaitu : kepemimpinan (leadership), arah kerja (work direction), aktivitas kerja (work activity), relasi sosial (social nature), gaya bekerja (work style), sifat temperamen (temperament), dan posisi atasan-bawahan (followership). Tes Papi Kostick saat ini sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan/organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. PAPI Kostick mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari PAPI Kostick, maka kita akan banyak memeroleh informasi mengenai profil individu, baik dari segi tipologi kepribadiannya maupun dalam konteks pekerjaannya.
Tes PAPI Kostick dibuat oleh Dr. Max Martin Kostick, pada awal tahun 1960-an. PAPI Kostick mengukur dinamika kepribadian (psychodynamics) dengan memerhatikan keterkaitan dunia sekitarnya (environment) termasuk perilaku dan nilai perusahaan (values) yang diterapkan dalam suatu perusahaan/situasi kerja dalam bentuk motif (need) dan standar gaya perilaku menurut persepsi kandidat (role) yang terekam saat psikotes.

Dasar pemikiran untuk desain dan formulasi PAPI Kostick sebagai suatu asesmen yang mengukur kecenderungan (Need/Kebutuhan) dan persepsi (Role/Peran) adalah didasarkan pada teori needs-press Murray. PAPI Kostick mengeksplor dimensi kepribadian yang luas. Dimensi-dimensi ini dipisahkan ke dalam skala Role dan Need.
Sedangkan dalam keterkaitannya teori Murray dengan PAPI Kostick adalah skala Role PAPI Kostick mengukur persepsi individu terhadap dirinya dalam lingkungan kerja dan memerhatikan area-area seperti kepemimpinan, perencanaan integrative, dan gaya pekerjaan (perhatian terhadap detail). Henry Murray (1938) yang justru lebih banyak dapat manfaat dalam penelitian kepribadian manusia. Needs didefinisikan sebagai tujuan manusia dan dorongan dasar (desires); traits didefinisikan sebagai kebiasaan pola pikir manusia, pengaruh (affect), dan tingkah laku (behavior). Traits menjawab pertanyaan “bagaimana” manusia bertingkah laku; needs menjawab pertanyaan “mengapa”. Karena itu, traits dan needs menggambarkan dua aspek fundamental yang berbeda dari kepribadian, yang semestinya keduanya tidak dipisahkan ketika kita hendak mengetahui kepribadian manusia secara komprehensif.

Norma Alat Tes PAPI Kostick

1. L = Peran – Pemimpin (Leadership Role)

Skor 5-9 : yaitu tingkat dimana seseorang memproyeksikan dirinya sebagai pemimpin suatu tingkat dimana ia mencoba menggunakan orang lain untuk mencapai tujuannya.
Skor 4-0 : cendurung tidak secara aktif menggunakan orang lain dalam bekerja.

2. P = Kebutuhan – Mengatur Orang Lain (Need to Control Others)

Skor 5-9 : tingkat kebutuhan untuk menerima tanggung jawab orang lain, menjadi orang yang bertanggung jawab.
Skor 4-0 : menurunnya keinginan untuk bertanggung jawab pada pekerjaan dan tindakan orang lain.

3. I = Peran – Membuat Keputusan (Ease in Decision Making)

Skor 0-2 : ragu – menolak mengambil keputusan
Skor 3-4 : berhati-hati membuat keputusan
Skor 5-7 : berhati-hati – lancar dan mudah mengambil keputusan
Skor 8-9 : tidak ragu dalam mengambil keputusan

4. F = Kebutuhan – Membantu Atasan (Need to Support Authority)

Skor 6-9 : bersikap setia dan membantu, kemungkinan bantuannya bersifat politis
Skor 4-5 : setia terhadap perusahaan
Skor 2-3 : mengurus kepentingan sendiri
Skor < 2 : cenderung egois, kemungkinan dapat memberontak

5. W = Kebutuhan Mengikuti Aturan dan Pengawasan (Need for Rules and Supervision)


Skor < 4 : berorientasi pada tujuan, mandiri
Skor 4-5 : kebutuhan akan pengarahan dan harapan yang dirumuskan untuknya
Skor 6-9 : meningkatnya orientasi terhadap tugas dan membutuhkan instruksi yang jelas

6. T = Peran Sibuk (Pace)

Skor < 4 : melakukan segala sesuatu menurut kemauannya sendiri
Skor 4-6 : tergolong aktif secara internal dan mental

7. V = Peran Penuh Semangat (Vigorous Type)

Skor < 5 : cenderung pasif
Skor 5-7 : aktif secara fisik, cenderung sportif

8. R = Peran Orang yang Teoretis (Theoretical Type)

Skor 0-4 : kurang perhatian, bersifat praktis
Skor 5-9 : nilai-nilai penalaran tergolong tinggi

9. D = Peran Bekerja dengan Hal-hal yang Rinci (Interest in Working With Details)

Skor 0-3 : menyadari kebutuhan akan kecermatan, tetapi tidak berminat bekerja detail
Skor 4-9 : minat tinggi untuk bekerja secara detail

10. C = Peran Mengatur (Organized Type)

Skor 0-2 : fleksibel – tidak teratur
Skor 3-5 : teratur, tetapi tidak tergolong fleksibel
Skor 6-9 : keteraturan tinggi cenderung kaku

11. X = Kebutuhan untuk diperhatikan (Need to be Noticed)

Skor < 2 : cenderung pemalu
Skor 2-3 : rendah hati, tulus
Skor 4-5 : memiliki pola perilaku yang unik
Skor 6-9 : membutuhkan perhatian nyata

12. B = Kebutuhan untuk diterima dalam kelompok (Need to Belong to Groups)

Skor 0-3 : selektif
Skor 4-5 : ingin diterima, tetapi tidak mudah dipengaruhi kelompok
Skor 6-9 : ingin disukai dan diakui, mudah dipengaruhi

13. O = Kebutuhan Kedekatan dan Kasih Sayang (Need for Closeness and Affection)

Skor < 3: tidak suka hubungan perorangan
Skor 3-4 : sadar akan hubungan perorangan, tetapi tidak terlalu bergantung
Skor 5-9 : sangat tergantung, butuh penerimaan diri

14. S = Peran Hubungan Sosial (Social Extension)


Skor < 6 : perhatian rendah terhadap hubungan sosial, kurang percaya pada orang lain
Skor 6-9 : kepercayaan tinggi dalam hubungan sosial, senang berinteraksi sosial

15. N = Kebutuhan Menyelesaikan Tugas Secara Mandiri (Need to Finish Task)

Skor < 3 : menunda atau menghindari pekerjaan
Skor 3-4 : berhati-hati atau ragu dalam bekerja
Skor 4-6 : cukup bertanggungjawab pada pekerjaan
Skor 6-9 : tekun, tanggung jawab tinggi

16. A = Kebutuhan Berprestasi (Need to Achieve)

Skor 0-5 : ketidakpastian tujuan, kepuasan dalam suatu pekerjaan, tidak ada usaha lebih
Skor 6-9 : tujuan jelas, kubutuhan sukses dan ambisi tinggi

17. G = Peran Pekerja Keras (Hard Intense Worked)

Skor 3-4 : bekerja untuk kesenangan saja, bukan untuk hasil optimal
Skor 4-7 : kemauan bekerja keras yang tinggi

18. Z = Kebutuhan untuk Berubah (Need for Change)

Skor 0-2 : tidak suka berubah
Skor 3-4 : tidak suka perubahan jika dipaksakan
Skor 5-6 : mudah menyesuaikan diri
Skor 6-7 : membuat perubahan yang selektif, berpikir jauh kedepan
Skor 8-9 : mudah gelisah, frustasi, karena segala sesuatu tidak berjalan fantastis

19. K = Kebutuhan untuk Agresif (Need to be Forceful)

Skor 0-2 : menghindari masalah, menolak untuk mengenali situasi sebagai masalah
Skor 3-4 : suka lingkungan tenang, menghindari konflik
Skor 5 : keras kepala
Skor 6-7 : agresi berhubungan dengan pekerjaan, dorongan semangat bersaing
Skor 8-9 : agresif, cenderung defensif

20. E = Peran Pengendalian Emosi (Emotional Resistant)

Skor < 2 : terbuka, cepat bereaksi, tidak normatif
Skor 2-3 : terbuka
Skor 4-6 : punya pendekatan emosional seimbang, mampu mengendalikan
Skor > 6 : sangat normatif, kebutuhan pengendalian diri yang berlebihan

Sumber :

Tugas 3 : Psikologi Manajemen “Tes Psikologi untuk Pegawai”


·     Identitas
Nama               : Ashfiya Hilyah Awliya
NPM               : 11514739
Kelas               : 3PA10
·  Tugas 3           : Psikologi Manajemen
·  Isi                    :

Tes Psikologi untuk Pegawai
1. Tes Army Alpha
 


Tes Psikologi Army Alpha adalah sebuah tes psikologi yang dikembangkan oleh seorang psikolog Amerika bernama Arthur Sinton Otis, Ph.D (28 July 1886 - 1 January 1964). Otis mengembangkan tes Army Alpha pada tahun 1917. Pada awalnya tes ini dikembangkan oleh Otis untuk didedikasikan kepada US.Army (Angkatan Militer Amerika), sehingga diberi nama Army Alpha.Tes ini pernah dipakai untuk merekrut 1,7 juta tentara Amerika pada Perang Dunia pertama.
            Tes Psikologi Army Alpha ini adalah tes yang tidak meminta anda untuk menggambar, namun meminta anda menjawab sejumlah pertanyaan, sehingga tergolong "Tes Psikologi Kuesioner".

2. CFIT
CFIT atau yang merupakan kependekan dari Culture Fair Intelligence Test merupakan test yang dikembangkan oleh salah satu tokoh inteligensi terkenal, yaitu Raymond Cattel. Test CFIT ini dibuat dengan latar belakang test – test inteligensi lainnya yang tidak bebas nilai dan masih terpengaruh oleh budaya budaya dan juga norma pada masing – masing Negara. Norma dan juga nilai – nilai pada suatu kebudayaan ini, dapat mempengaruhi hasil dari pengukuran IQ atau Inteligensi individu. Karena itu, diperlukan sebuah test inteligensi universal, yang sifatnya :
1.      Bebas nilai
2.      Tidak terikat pada kebudayaan tertentu
3.      Dipahami oleh semua orang secara universal
Test CFIT ini merupakan tes psikologi yang mana ia mengukur apa yang dikenal sebagai fluid intelligence, yaitu kecerdasan yang meliputi kemampuan analisis dan penalaran. Terdapat tiga jenis CFIT, yaitu :
1.      CFIT skala 1, yang ditujukan untuk mereka yang mengalami retardasi mental
2.      CFIT Skala 2, yang ditujukan untuk usia 8 hingga 13 tahun
3.      CFIT skala 3, yang ditujukan untuk dewasa
4.      FIT Skala 3 adalah bentuk test CFIT yang paling umum dan juga banyak digunakan saat ini, terutama untuk penggunaan rekrutmen  dan juga assessment awal individu atau klien.
Administrasi dari Test CFIT
CFIT sendiri (Skala 3) terdiri dari 4 macam subtest. Berikut ini adalah ke empat macam subtest pada CFIT:
1.      Subtest 1 – Series
Peserta atau klien diminta untuk melanjutkan pola yang sudah ada, dan memilih 1 dari 6 pilihan pola yang ada.
2.      Subtest 2 – Classification
Peserta atau klien diminta untuk memilih 2 dari 5 pilihan gambar, dengan pola ataupun karakteristik yang sama atau memiliki kemiripan.
3.      Subtest 3 – Matrices
Peserta atau klien diminta untuk memilih 1 dari 5 pilihan jawaban, yang mampu melengkapi gambar utama yang tersaji. Subtest ini memiliki cara kerja yang mirip dengan APM, SPM, dan juga CPM.
4.      Subtest 4 – Condition / Typologi
Peserta atau klien diminta untuk memilih 1 dari 5 jawaban dimana jawaban tersebut memiliki kondisi, tekstur ataupun situasi yang sama seperti pada soal yang tersaji.
CFIT merupakan bentuk battery test, karena itu membutuhkan waktu, dan peserta atau klien dituntut untuk mampu menjawab soal pada masing – masing subtest dalam waktu tertentu. Masing – masing subtest pada CFIT memiliki karekteristik yang berbeda – beda, sehingga peserta atau klien nantinya harus konsentrasi dan juga focus terhadap instruksi yang diberikan oleh tester pada saat pelaksanaan test.
2. Wartegg
Tujuannya adalah eksplorasi kepribadian dalam istilah fungsi-fungsi dasar
yaitu: emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol, reality function, yang ada pada semua orang namun dengan intensitas dan interelasi yang berbeda.
Struktur kepribadian tidaklah statis, berubah-ubah dan menentukan sebagian besar perilaku individu. Maka tehnik eksplorasi juga melihat cara subyek berfungsi, yaitu apakah normal ataukah abnormal. Maka bila satu atau beberapa kompinen sangat dominan, berarti bahwa struktur tidak seimbang, jadi fungsi subyek adalah defektif. Misalnya, fungsi kontrol terlalu kuat maka perilaku akan terhambat, sedangkan bila imajinasi berkembang berlebihan maka kontak dengan realitas dan fungsi sosialnya terganggu.


Pada saat Anda menjalankan Wartegg Test, Anda akan diberi selembar kertas yg berisi 8 kotak yg ada stimulus2 nya, kemudian Anda akan diberikan perintah untuk melengkapi dari gambar yg ada di kotak tersebut.
Isi dari masing2 gambar :
1.      Gambar 1
Berupa titik ditengah kotak : ini menyangkut hal-hal yANg berhubungan dengan penyesuaian diri yaitu bagaimana seseorang menempatkan diri pada lingkungan nya.
2.      Gambar 2
Berupa ~ namun berada di kotak sebelah kiri , menunjukkan fleksibilitas perasaan.
3.      Gambar 3
Berupa 3 garis horisontal dari pendek, sedang tinggi sejajar yang mengukur hasrat untuk maju/ ambisi.
4.      Gambar 4
Berupa kotak kecil di sebelah kanan yang mengukur bagaimana seseorang mengatasi kesulitan
5.      Gambar 5
Seperti huruf T namun miring mengukur bagaimana cara bertindak.
6.      Gambar 6
Berupa garis horisontal ; vertikal : mengukur cara berpikir /analisa; sintesa.
7.      Gambar 7
Berupa titik2 : menyangkut kehidupan dan perasaan ( apakah sudah stabil, kekanakan).
8.      Gambar 8
Berupa lengkungan : mengenai kehidupan sosial/ hubungan sosial.
     Berikut ini adalah salah satu contoh pengerjaan yang pernah digunakan penulis untuk melewati tahap psikotes ini: 


4. Pauli


Tes  ini pada awalnya dibuat oleh seorang psikiater yang bernama kraepelin yang awalnya digunakan untuk membedakan antara orang yang normal dan tidak normal. Namun seiring perkembangan waktu, test ini sudah digunakan oleh perusahaan, badan hukum termasuk instansi pemerintahan untuk menyeleksi calon tenaga kerja/ pegawai.
Sebuah Speed Test yang terdiri dari 45 lajur angka satuan antar 0 sampai dengan 9 yang tersusun secara acak sebanyak 60 angka secara vertikal pada tiap-tiap lajur. Ciri utama sebuah speed test adalah tidak adanya waktu yang cukup untuk menyelesaikan semua soal sehingga testi tidak diharapkan untuk menyelesaikan sepenuhnya setiap lajur. Inti dalam tes ini adalah bagaimana kecepatan kerja testi.

5.        PAPI Kostick
Tes untuk menjabarkan kepribadian dalam 20 aspek yang masing-masing mewakili need atau role tertentu, tinggi rendahnya need atau role tertentu mempunyai arti yang spesifik. Konfigurasi yang diperoleh adalah gambaran dari pilihan testee yang bermuatan need atau role, dan dibandingkan dengan need atau role lain dalam keseluruhan sistem kepribadian berdasarkan persepsi testee atas dirinya sendiri.
PAPI Kostick merupakan laporan inventori kepribadian (self report inventory), terdiri dari 90 pasangan pernyataan pendek berhubungan dalam situasi kerja, yang menyangkut 20 aspek kepribadian yang dikelompokkan dalam 7 bidang, yaitu : kepemimpinan (leadership), arah kerja (work direction), aktivitas kerja (work activity), relasi sosial (social nature), gaya bekerja (work style), sifat temperamen (temperament), dan posisi atasan-bawahan (followership). Tes Papi Kostick saat ini sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan/organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. PAPI Kostick mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari PAPI Kostick, maka kita akan banyak memeroleh informasi mengenai profil individu, baik dari segi tipologi kepribadiannya maupun dalam konteks pekerjaannya.
Tes PAPI Kostick dibuat oleh Dr. Max Martin Kostick, pada awal tahun 1960-an. PAPI Kostick mengukur dinamika kepribadian (psychodynamics) dengan memerhatikan keterkaitan dunia sekitarnya (environment) termasuk perilaku dan nilai perusahaan (values) yang diterapkan dalam suatu perusahaan/situasi kerja dalam bentuk motif (need) dan standar gaya perilaku menurut persepsi kandidat (role) yang terekam saat psikotes.

Dasar pemikiran untuk desain dan formulasi PAPI Kostick sebagai suatu asesmen yang mengukur kecenderungan (Need/Kebutuhan) dan persepsi (Role/Peran) adalah didasarkan pada teori needs-press Murray. PAPI Kostick mengeksplor dimensi kepribadian yang luas. Dimensi-dimensi ini dipisahkan ke dalam skala Role dan Need.
Sedangkan dalam keterkaitannya teori Murray dengan PAPI Kostick adalah skala Role PAPI Kostick mengukur persepsi individu terhadap dirinya dalam lingkungan kerja dan memerhatikan area-area seperti kepemimpinan, perencanaan integrative, dan gaya pekerjaan (perhatian terhadap detail). Henry Murray (1938) yang justru lebih banyak dapat manfaat dalam penelitian kepribadian manusia. Needs didefinisikan sebagai tujuan manusia dan dorongan dasar (desires); traits didefinisikan sebagai kebiasaan pola pikir manusia, pengaruh (affect), dan tingkah laku (behavior). Traits menjawab pertanyaan “bagaimana” manusia bertingkah laku; needs menjawab pertanyaan “mengapa”. Karena itu, traits dan needs menggambarkan dua aspek fundamental yang berbeda dari kepribadian, yang semestinya keduanya tidak dipisahkan ketika kita hendak mengetahui kepribadian manusia secara komprehensif.

Norma Alat Tes PAPI Kostick

1. L = Peran – Pemimpin (Leadership Role)

Skor 5-9 : yaitu tingkat dimana seseorang memproyeksikan dirinya sebagai pemimpin suatu tingkat dimana ia mencoba menggunakan orang lain untuk mencapai tujuannya.
Skor 4-0 : cendurung tidak secara aktif menggunakan orang lain dalam bekerja.

2. P = Kebutuhan – Mengatur Orang Lain (Need to Control Others)

Skor 5-9 : tingkat kebutuhan untuk menerima tanggung jawab orang lain, menjadi orang yang bertanggung jawab.
Skor 4-0 : menurunnya keinginan untuk bertanggung jawab pada pekerjaan dan tindakan orang lain.

3. I = Peran – Membuat Keputusan (Ease in Decision Making)

Skor 0-2 : ragu – menolak mengambil keputusan
Skor 3-4 : berhati-hati membuat keputusan
Skor 5-7 : berhati-hati – lancar dan mudah mengambil keputusan
Skor 8-9 : tidak ragu dalam mengambil keputusan

4. F = Kebutuhan – Membantu Atasan (Need to Support Authority)

Skor 6-9 : bersikap setia dan membantu, kemungkinan bantuannya bersifat politis
Skor 4-5 : setia terhadap perusahaan
Skor 2-3 : mengurus kepentingan sendiri
Skor < 2 : cenderung egois, kemungkinan dapat memberontak

5. W = Kebutuhan Mengikuti Aturan dan Pengawasan (Need for Rules and Supervision)


Skor < 4 : berorientasi pada tujuan, mandiri
Skor 4-5 : kebutuhan akan pengarahan dan harapan yang dirumuskan untuknya
Skor 6-9 : meningkatnya orientasi terhadap tugas dan membutuhkan instruksi yang jelas

6. T = Peran Sibuk (Pace)

Skor < 4 : melakukan segala sesuatu menurut kemauannya sendiri
Skor 4-6 : tergolong aktif secara internal dan mental

7. V = Peran Penuh Semangat (Vigorous Type)

Skor < 5 : cenderung pasif
Skor 5-7 : aktif secara fisik, cenderung sportif

8. R = Peran Orang yang Teoretis (Theoretical Type)

Skor 0-4 : kurang perhatian, bersifat praktis
Skor 5-9 : nilai-nilai penalaran tergolong tinggi

9. D = Peran Bekerja dengan Hal-hal yang Rinci (Interest in Working With Details)

Skor 0-3 : menyadari kebutuhan akan kecermatan, tetapi tidak berminat bekerja detail
Skor 4-9 : minat tinggi untuk bekerja secara detail

10. C = Peran Mengatur (Organized Type)

Skor 0-2 : fleksibel – tidak teratur
Skor 3-5 : teratur, tetapi tidak tergolong fleksibel
Skor 6-9 : keteraturan tinggi cenderung kaku

11. X = Kebutuhan untuk diperhatikan (Need to be Noticed)

Skor < 2 : cenderung pemalu
Skor 2-3 : rendah hati, tulus
Skor 4-5 : memiliki pola perilaku yang unik
Skor 6-9 : membutuhkan perhatian nyata

12. B = Kebutuhan untuk diterima dalam kelompok (Need to Belong to Groups)

Skor 0-3 : selektif
Skor 4-5 : ingin diterima, tetapi tidak mudah dipengaruhi kelompok
Skor 6-9 : ingin disukai dan diakui, mudah dipengaruhi

13. O = Kebutuhan Kedekatan dan Kasih Sayang (Need for Closeness and Affection)

Skor < 3: tidak suka hubungan perorangan
Skor 3-4 : sadar akan hubungan perorangan, tetapi tidak terlalu bergantung
Skor 5-9 : sangat tergantung, butuh penerimaan diri

14. S = Peran Hubungan Sosial (Social Extension)


Skor < 6 : perhatian rendah terhadap hubungan sosial, kurang percaya pada orang lain
Skor 6-9 : kepercayaan tinggi dalam hubungan sosial, senang berinteraksi sosial

15. N = Kebutuhan Menyelesaikan Tugas Secara Mandiri (Need to Finish Task)

Skor < 3 : menunda atau menghindari pekerjaan
Skor 3-4 : berhati-hati atau ragu dalam bekerja
Skor 4-6 : cukup bertanggungjawab pada pekerjaan
Skor 6-9 : tekun, tanggung jawab tinggi

16. A = Kebutuhan Berprestasi (Need to Achieve)

Skor 0-5 : ketidakpastian tujuan, kepuasan dalam suatu pekerjaan, tidak ada usaha lebih
Skor 6-9 : tujuan jelas, kubutuhan sukses dan ambisi tinggi

17. G = Peran Pekerja Keras (Hard Intense Worked)

Skor 3-4 : bekerja untuk kesenangan saja, bukan untuk hasil optimal
Skor 4-7 : kemauan bekerja keras yang tinggi

18. Z = Kebutuhan untuk Berubah (Need for Change)

Skor 0-2 : tidak suka berubah
Skor 3-4 : tidak suka perubahan jika dipaksakan
Skor 5-6 : mudah menyesuaikan diri
Skor 6-7 : membuat perubahan yang selektif, berpikir jauh kedepan
Skor 8-9 : mudah gelisah, frustasi, karena segala sesuatu tidak berjalan fantastis

19. K = Kebutuhan untuk Agresif (Need to be Forceful)

Skor 0-2 : menghindari masalah, menolak untuk mengenali situasi sebagai masalah
Skor 3-4 : suka lingkungan tenang, menghindari konflik
Skor 5 : keras kepala
Skor 6-7 : agresi berhubungan dengan pekerjaan, dorongan semangat bersaing
Skor 8-9 : agresif, cenderung defensif

20. E = Peran Pengendalian Emosi (Emotional Resistant)

Skor < 2 : terbuka, cepat bereaksi, tidak normatif
Skor 2-3 : terbuka
Skor 4-6 : punya pendekatan emosional seimbang, mampu mengendalikan
Skor > 6 : sangat normatif, kebutuhan pengendalian diri yang berlebihan

Sumber :